Pengemis Yang Miskin

Pengemis Yang Miskin

Sore tadi jalan - jalan ke Matahari alun - alun Magelang bareng keluarga.
Baru sampai depan gedung sudah disambut seorang pengemis duduk ngelemprak di atas aspal.
Mukanya jerawatan, ekspresi melas, kurus kering, hitam dekil, baju compang camping dg secarik plastik kresek terbuka di sampingnya berisi uang receh.
Suaranya parau. Tangannya sedikit tertekuk seolah ingin menunjukkan kecacatannya.
Siapa yang tidak iba lihat manusia seperti itu.
Sontak bapak kasih uang ke ata anak saya, suruh dia untuk kasihkan ke pengemis.
Tapi saya melarang. Saya bilang, "Nggak usah dikasih ta, kalo dia memang orang yang beneran butuh bantuan nggak bakal sampai ngemis seperti ini."
Logika yang aneh memang, udah tau butuh kok malah nggak mau ngemis? Nggak mau minta? Kan butuh.
Bapak dan ata sepertinya tidak menggubris larangan saya, diberikanlah uang itu. Ya sudahlah.
Saya pun berlalu masuk ke gedung.
Selesai belanja, kami masuk mobil yang kebetulan parkir di depan warung bakso yang tengah buka sore itu, ramai warungnya. Sedap baunya. Alamak. Segar betul puasa begini makan bakso. Haha
Selang tak beberapa lama, istri angkat suara,
"Yah, tadi waktu mau masuk mobil, aku lihat pengemis yang tadi itu lagi di dalem warung lho. Ketawa tiwi lagi bagi - bagi rokok ke temen - temennya."
Seketika hening.
Saya menimpali,
"Ah... kamu salah orang kali, kan dia lagi ngemis di depan tadi..."
Memang kebetulan saya nggak begitu perhatikan sih waktu keluar gedung, tapi seingat saya memang manusia itu sudah nggak ada.
"Enggak kok yah, beneran deh, itu pengemis yang tadi..." Timpal istriku.
Aku lupa, istriku memang ingatannya paling kuat di antara kami soal mengingat wajah. Sepertinya dia memang benar.
Saya melirik ke spion tengah mobil melihat ekspresi senyum kecewa bapak saya. Saya juga ikut tersenyum, kecut.

Kemiskinan seseorang bukan cuma dinilai dari harta, lihat saja pengemis itu. Sehari penghasilan mungkin lebih besar dari orang kantoran. Tapi tetep aja miskin, miskin mental dan harga diri.
Butuh uang? Kepepet kebutuhan? Banyak temennya pak. Ga situ doank.
Cuman bedanya, kita yang mau bekerja, kita yang selalu bertahan, kita yang selalu berusaha, jauh lebih kaya dari pengemis luck-nut yang cuma mengandalkan iba dari para dermawan yang baik hati.
Hikmahnya, jangan gampang kasih uang ke pengemis. Mau semelas apapun mukanya, mau sesedikit berapapun uang yang mau dikasih. Jangan. Jangan memiskinkan mereka yang sudah miskin.
Biasanya netijen yang budiman akan berkata,
"Itu kan urusan dia sama tuhan, kalo dia bohong biarkan saja dia menanggung dosa. Kita ga perlu suudzon berpikir buruk dulu."
Jadi gini ya para netijen, ini ga ada hubungannya sama tuhan, ini murni urusan antar manusia, kalo bisa dicegah, cegahlah. Katanya iba, kasihanilah dia dengan tidak memberikan uang sepeserpun. Agar dia bisa hidup lebih baik lagi.
Pengen sedekah? Kasih aja ke rumah ibadah, ke panti asuhan, ke tetangga yang kalian tahu persis bahwa dia benar - benar butuh. Lebih manfaat kan?
Apapun sangkalan kalian, saya nggak peduli.
Orang ini tulisan saya.
Gitu.
Semoga berguna.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Keresahan Dari Meme Tuman Yang Lagi Viral

Saya Suka Tattoo !!